on 2 comments

Laron, Tanda Awal Musim Hujan..

Kalau di malam hari di sekitar lampu yang bersinar ada banyak serangga yang berterbangan, itu tandanya akan hujan. Lho? Serangga apa sih yang suka berkumpul di dekat cahaya, cuma di malam hari pula? Kita mengenalnya dengan sebutan Laron.

Penulis biasanya ketika menemukan ada 2-5 Laron mulai berkumpul di atas lampu depan, maka lampu rumah tersebut akan dipadamkan dan menutup jendela serta menutup pintu. Jika ada orang yang lewat di depan rumah, maka dapat dipastikan rumah tersebut gelap gulita dari arah depan. Padahal sebenarnya di dalam rumah ada penghuninya. Dan biasanya setelah menunggu beberapa saat, penulis akan mengecek kondisi di luar jika Laron tersebut sudah hilang atau tambah ramai. Jika Laron sudah hilang, lampu rumah pun akan dihidupkan seperti sedia kala.

Sebenarnya apa sih Laron ini? Banyak yang mengatakan bahwa Laron adalah pertanda bahwa musim hujan akan datang. Tapi yang pasti bagi penulis, jika Laron ini sudah masuk ke ruang tengah di dalam rumah, akan lebih menyusahkan untuk mengusir dan membersihkan sayap-sayapnya yang patah.
on 1 comment

Saat Kakak Adik Bertengkar, Apa Yang Harus Dilakukan?

Pernah melihat orang bertengkar? Bisa jadi orang yang bertengkar itu adalah sepasang suami istri, orang tua dan anak ataupun kakak adik yang sedang bertengkar. Kejadian tersebut tidak dapat dihindari terutama bagi mereka yang memiliki saudara. Adanya saudara dalam rumah adalah berkah bagi orang tua. Dimana orang tua terkadang tidak selalu berada di rumah, apalagi jika kedua orang tua aktif bekerja di luar rumah. Saudara adalah teman terdekat yang pertama kali bisa ditemui sebelum anak-anak berinteraksi dengan teman di luar rumah.

Namun, saudara tidak selamanya bisa akur. Tingginya intensitas bertemu tidak bisa menjadi tolak ukur bahwa antar saudara dapat hidup harmonis di sepanjang waktu. Bisa jadi karena banyaknya waktu yang dihabiskan tersebut, banyak hal yang bisa dibicarakan, didiskusikan dan diperdebatkan.
Biasanya alur komunikasi yang terbentuk di antara saudara dimulai dari adanya ketertarikan pada benda atau hal yang sama. Hal tersebut dilanjutkan dengan pembahasan ringan dan jika diteruskan lagi maka akan masuk ke sesi debat. Hasil akhir dalam debat hanya menghasilkan dua akhir, apakah kedua belah pihak setuju atau berakhir dengan drama. Jika hal ini terjadi pada anak kecil, pastilah keduanya akan berargumen dan pada akhirnya bisa bertengkar.

Kejadian di atas sering sekali kita temui. Tidak perlu jauh-jauh untuk mengambil contoh, di dalam rumah pun hal tersebut bisa terjadi. Apa yang harus dilakukan jika kita menemui mereka sedang bertengkar?
on 1 comment

Mengendalikan Perasaan Marah Milikmu, Bukan Milik Orang Lain

Siapa yang tidak pernah marah? Marah adalah lumrah bagi kita. Namun jika terlalu sering marah, itu berarti ada sesuatu dalam kehidupan kita yang harus diperbaiki. Kita tentunya tidak ingin marah di setiap harinya terkecuali jika memang itu adalah tuntutan profesi. Tapi apakah ada jabatan di perusahaan yang fungsinya khusus hanya untuk memarahi anak buahnya? Lantas, apakah fungsi team di bawah orang tersebut akan berjalan dengan baik jika atasannya lebih memusatkan perhatiannya untuk memarahi dibandingkan mengarahkan?

Seperti kebanyakan hal lainnya, jika dilakukan dalam porsi yang tidak berlebihan, maka marah merupakan lecutan yang bersifat positif. Masalahnya adalah terkadang kita tidak memiliki batasan yang pasti untuk menampung perasaan marah ini. Beberapa dari kita sering menyebutnya dengan ungkapan "Jangan coba-coba untuk menguji kesabarannya". Marah dalam hal ini lebih dekat dengan sikap sabar. Menghadapi orang yang sulit, membuat kita sering mengelus dada. Segera setelah kita kehabisan kesabaran, amarah yang menumpuk tersimpan akan diledakkan keluar.

Pertanyaannya adalah seberapa lama orang tersebut harus dalam posisi marah? Kita sering membaca dan mendengar tentang akibat dari marah, namun adakah yang bisa memberikan durasi kapan perasaan marah tersebut harus berakhir? Kadang kita bisa menyaksikan walau ucapan sudah tidak ada yang keluar dari mulut, namun ada beberapa orang yang tidak cukup hanya melampiaskan marahnya, bahkan harus memendamnya!
on Leave a Comment

When Enough Is Never Enough (Ketika Cukup Tidak Pernah Cukup)

Ungkapan "Mencegah lebih baik daripada Mengobati" sudah sering kita dengar. Tidak hanya untuk penyakit, namun bisa diartikan untuk hal-hal yang tidak dapat diperbaiki jika sudah terlanjur kejadian. Pada Kenyataannya masih banyak di antara kita yang masih sampai saat ini seperti berusaha menguji akan pembenaran kata-kata di atas.

Ini adalah kisah menarik yang akan saya ceritakan. Bermula dari sebuah team baru yang memegang peranan baru. Bisa dibilang bahwa team ini adalah team baru dengan personel baru dan dengan ruang lingkup pekerjaan yang dulunya adalah kerjaan sampingan team lain. Team ini awalnya beranggotakan 2 orang dan kemudian seiring dengan waktu bertambah, pada akhirnya mencapai 8 orang.

Banyaknya deadline yang harus dikejar mengharuskan team ini memacu adrenalin di setiap nafas, tidak hanya saat menjejakkan kakinya ke area kantor, melainkan harus menarik nafas yang panjang saat meletakkan kakinya keluar dari kantor. Sesekali nafas pendek dapat pula ditarik hembuskan jika ada pekerjaan yang "tertangkap" melenceng dari target. Kadang aliran informasi yang tidak lengkap dan sering terputus di tengah jalan, dan terlalu banyak dibumbui ketika sampai di telinga atasan membuat suasana kerja semakin tidak kondusif.

on 1 comment

Kebiasaan (Memang) Tidak Mudah Diubah Namun Itu Bisa!

Tidak semua orang bisa berhenti dari kebiasaan lama mereka. Beberapa dari kita menyadari secara sadar bahwa kebiasaan yang kita jalani sebenarnya tidak memberi manfaat untuk kita. Bahkan kadang kebiasaan tersebut bisa menjurus ke hal yang negatif, baik ke diri sendiri maupun ke orang lain.

Penulis teringat akan salah satu kebiasaan yang sering dilakukan saat masih di bangku sekolah. Kebiasaan ini sering dilakukan saat penulis tidak mendapati menu makanan yang tersaji di meja makan baik di pagi, siang maupun di malam hari. Saat itu (penulis masih anak-anak kelas 8) adalah hal yang lumrah jika melampiaskan rasa lapar dengan membuat salah satu sajian mie instan. Banyak sekali variasi rasa yang ada di mie instan di negara kita. Dari yang berkuah hingga yang kering (goreng), ataupun dalam kemasan cup. Semua mie instan tersebut bagai magnet untuk kebanyakkan orang.

Salah satu kebiasaan yang penulis lakukan saat itu adalah seringnya makan mie instan. Jika menu sarapan dirasa tidak cocok, maka penulis akan mulai memasak mie instan. Begitu juga halnya untuk menu makan siang. Jika di pagi harinya sudah memakan mie instan berkuah, maka biasanya penulis akan menvariasikannya dengan memakan mie instan goreng. Hal yang sama akan terulang untuk malam harinya, biasanya mie instan ini dimakan bersamaan dengan nasi. Orang kita memang terkenal dengan semboyan "jika belum makan nasi, itu namanya belum makan".
on 2 comments

Informasi Kadaluarsa Pada Obat (Simple Itu Belum Tentu Aman)

Cerita ini saya dapatkan saat kami sedang jalan-jalan menuju gerai supermarket. Karena saat itu ada sepupu yang mampir ke rumah, maka sepupu tersebut pun diajak turut. Di dalam mobil, sepupu itu bercerita tentang kejadian yang terjadi belakangan ini menimpa salah satu saudaranya. Saat itu saudaranya sepupu baru selesai pulang dari aktivitas kantoran dan rebahan sebentar di kursi panjang di ruang tamu. Karena rasa lelah yang tidak tertahan, dibukalah kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Dari sekian banyak barang di dalam kulkas, hanya susu yang sepertinya bisa langsung diminum.

Segelas susu pun kini sudah berada digengamannya, dan tidak perlu lama agar isi dari gelas itu berpindah tempat ke dalam perutnya. Namun, rasa susu selepas tegukan pertama sepertinya tidak sesuai dengan gambaran susu yang pernah diminumnya. Saudara itu pun kembali melihat kemasan susu dan mencari tahu letak tanggal kadaluarsa. Hal seperti itu lazim dilakukan karena daya tahan susu yang tidak bisa lama jika sudah dibuka. Ternyata susu tersebut sudah expired atau sudah kadaluarsa.

Tidak ingin makanan yang basi merusak tubuhnya, saudara ini langsung membuka kotak obat dan menemukan obat yang diinginkan. Sekejap mata, obat itu pun ditelannya. Merasa puas akan hasil antisipasinya, si saudara terduduk sebentar dan kembali tersadarkan akan sesuatu. Jika minuman saja mempunyai tanggal kadaluarsa, mungkinkah obat tadi juga memiliki tanggal kadaluarsa ? Alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa obat itu pun ternyata sudah melewati tanggal kadaluarsa.

on Leave a Comment

Krisis Itu Sahabat Kita

Jaman sekarang semua serba mahal, contohnya saja daging sapi mahal, daging ayam juga mahal, harga cabe rawit pun ikutan pedas di kantong. Ada yang bilang sekarang masa perlambatan ekonomi. Banyak kebijakan pemerintah yang mencekik leher, pajak dinaikkan, listrik dan air silih berganti mendaki ke puncak. Belum lagi nilai tukar rupiah yang makin hari makin melemah, konon katanya mau genjot ekspor agar menambah devisa. Sudah pasti yang di-ekspor masih seputaran tanah tempat kita berpijak, bahan baku yang sebenarnya masih bisa kita olah untuk diberikan nilai tambah dan masih banyak yang lain. Ditengah potensi kekayaan SDA di bumi pertiwi ini, nyatanya sekarang kita sedang memasuki periode yang dinamakan Krisis.

Ada banyak sekali krisis yang saat ini sedang booming di negara kita. Kalau mau mengutip kata anak jaman sekarang, lagi trend gitu loch. Sebelumnya kita disuguhi dengan trend batu akik, sekarang kita disuguhi dengan trend krisis.
on Leave a Comment

"Sebentar Lagi" Itu Berapa Lama Sih?

Mungkin kita semua pernah mengalami hal ini: Menunggu. Apakah menunggu kedatangan orang/tamu, menunggu kedatangan paket, menunggu jadwal tayang ataupun menunggu hidangan di restoran. Tanpa disadari, dalam kehidupan manusia, salah satu aktivitas kita adalah menunggu.

Menunggu adalah aktivitas yang paling dihindari kebanyakan orang. Apalagi jika aktivitas tersebut tidak bisa diselingi dengan aktivitas yang lain. Bisa mati gaya, begitulah jika diibaratkan dengan bahasa gaul sekarang. Oleh karena itu, masyarakat kini lebih memilih terlambat dibandingkan harus hadir kepagian. Selalu saja ada kambing hitam yang bisa ditunjuk, umumnya adalah macet di jalan.

Akhir minggu kemarin adalah minggu yang padat dengan jadwal berpergian. Walaupun demikian, semua rencana sudah disusun secara rapi, berurutan dan semua lokasi sudah diatur untuk melewati satu rute yang sama. Tentunya sudah mempertimbangkan jam padat di jalanan, meski hari itu adalah hari libur tapi yang namanya kondisi jalan di ibukota sama sekali tidak bisa diprediksi.
on 17 comments

Jangan Siram Tanaman di Siang Hari, Mati Tanamannya. Benarkah?

Siang itu memang bukan siang di hari minggu, namun hari itu juga bukan hari kerja bagi saya. Alhasil saya terbangun lebih siang dari jam bangun saya biasanya. Bukan tanpa sebab tentunya saya harus mengambil jatah OFF di hari itu. Jatah cuti per tahun yang diberikan oleh kantor saya sudah mencapai limit, dalam artian jatah cuti tersebut tidak dapat diuangkan ataupun diakumulasikan ke periode selanjutnya. Jika tidak mengambil jatah cuti tersebut, maka jatah cuti itu akan hangus. Dipikir-pikir, sayang juga kalau tidak mengambil jatah cuti tersebut. Jadilah hari itu saya libur kerja.

Banyak pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan ketika kita berada di rumah. Selalu saja ada pekerjaan menanti, entah itu merapikan rak buku, membersihkan rak sepatu ataupun membersihkan pekarangan rumah. Prioritas pertama yang bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang ada di depan mata. Sejauh mata memandang, lebih mudah menyiram tanaman di depan rumah, begitu pikir saya ketika beberapa pekerjaan di dalam rumah terselesaikan. Memang harus diakui, butuh waktu yang lumayan banyak untuk menyelesaikan pekerjaan di dalam rumah, jadi saat berada di depan rumah adalah saat dimana matahari sedang terik di atas kepala.

Saat sedang asyik menyiram tanaman, tetangga sebelah mendekati sisi pagar rumah sembari berkata "bukannya tidak boleh ya menyiram di siang hari? nanti mati semua tanamannya lho". Setelah berkata demikian, si tetangga ini masih berada di tempatnya tadi, seolah-olah menunggu jawaban dari saya mengenai pernyataan yang diberikannya.
Powered by Blogger.