Bamboroo yang sudah lama tidak ketemu dengan kakek, mencoba mencari kenangan melalui buku diary yang tersusun rapi di dalam kamarnya. Perlahan-lahan dibukanya lembaran buku tebal itu, dan sesekali tersenyum kecil mengingat cerita yang sering dibacakan oleh kakeknya, tertuang rapi disana.
Cerita itu bermula di negri tiongkok, negeri persilatan yang pada jamannya sangat banyak sekali ilmu bela diri tercipta.
Satu masa, di jaman itu, dalam satu angkatan training akan selalu muncul satu murid yang paling berprestasi. Murid yang memiliki disiplin yang baik, etos kerja yang tinggi dan semangat pantang menyerah. Murid ini berhasil melewati semua ujian yang diberikan oleh gurunya, sehingga tibalah waktunya bagi murid itu untuk "turun gunung". Sang guru mengajak murid untuk memilih hadiah sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi murid. Diantarkan muridnya sampai ke dalam sebuah gua. Di dalam gua itu hanya memiliki 2 jalan, satu mengarah ke kanan dan satu mengarah ke kiri. Sang murid dapat merasakan hawa jahat dari arah kanan, namun hawa sejuk dirasakannya dari arah sebaliknya.
"Jika kamu bisa menjadi apapun, kamu mau menjadi apa?
Saya pernah di-interview oleh kakak kelas dalam rangka masuk ke dalam organisasi di kampus. Pertanyaannya bukan seputar akademis. Mau tahu apa pertanyaannya?
"Jika kamu mau menjadi sesuatu, kamu mau menjadi apa?"
Ya, pertanyaannya jelas dan jika tidak dimengerti, kita boleh menanyakan, maksud dari "mau" ini berarti apa? "mau" di sini artinya kita bisa menjadi apa saja, dari yang tidak pernah kita bayangkan ataupun impian tergila yang pernah kita pikirkan. Seketika itu, banyak sekali pilihan-pilihan yang muncul dalam pikiran saya, namun semuanya tertahan di ujung bibir ini. Mau jadi apa ya?
Belum selesai memberikan jawaban, kakak kelas kembali menyambungkan pertanyaannya, "berikan alasannya juga ya". Kok? Makin aneh ya pertanyaannya. Dari sekian banyaknya hal, saya harus memikirkan alasan mengapa saya memilih hendak menjadi apa. Jika itu yang terjadi kepada anda, anda mau menjadi apa? Saya berikan beberapa contoh yang mungkin bisa menjadi gambaran dari jawaban atas pertanyaan di atas:
"Jika kamu mau menjadi sesuatu, kamu mau menjadi apa?"
Ya, pertanyaannya jelas dan jika tidak dimengerti, kita boleh menanyakan, maksud dari "mau" ini berarti apa? "mau" di sini artinya kita bisa menjadi apa saja, dari yang tidak pernah kita bayangkan ataupun impian tergila yang pernah kita pikirkan. Seketika itu, banyak sekali pilihan-pilihan yang muncul dalam pikiran saya, namun semuanya tertahan di ujung bibir ini. Mau jadi apa ya?
Belum selesai memberikan jawaban, kakak kelas kembali menyambungkan pertanyaannya, "berikan alasannya juga ya". Kok? Makin aneh ya pertanyaannya. Dari sekian banyaknya hal, saya harus memikirkan alasan mengapa saya memilih hendak menjadi apa. Jika itu yang terjadi kepada anda, anda mau menjadi apa? Saya berikan beberapa contoh yang mungkin bisa menjadi gambaran dari jawaban atas pertanyaan di atas:
Batu Kehidupan : Istirahatlah sejenak
Setelah asyik berjalan sembari mewarnai setiap batu yang ditemukan, remaja tersebut sering menyimpan beberapa batu yang ditemukan dan dimasukkan ke dalam keranjangnya. Ternyata remaja ini suka sekali dengan bentuk batu yang tidak beraturan, sehingga tidak disadari hari sudah mulai gelap.
Dikumpulkannya semua batu yang bisa dia bawa, lalu dia tempatkan di dalam keranjangnya. Sekarang keranjangnya semakin berat. Sepanjang perjalanan yang dilalui, baru kali ini dia merasa pegal yang teramat dalam pada badannya. Tapi itu mungkin hanya perasaannya saja. Sehingga setiap langkah yang dia tempuh makin hari makin berat. Hingga pada akhirnya dirinya tidak bisa mengerakkan sama sekali kakinya.
"Kenapa saya tidak bisa berjalan?" keluh si remaja ini
Dikumpulkannya semua batu yang bisa dia bawa, lalu dia tempatkan di dalam keranjangnya. Sekarang keranjangnya semakin berat. Sepanjang perjalanan yang dilalui, baru kali ini dia merasa pegal yang teramat dalam pada badannya. Tapi itu mungkin hanya perasaannya saja. Sehingga setiap langkah yang dia tempuh makin hari makin berat. Hingga pada akhirnya dirinya tidak bisa mengerakkan sama sekali kakinya.
"Kenapa saya tidak bisa berjalan?" keluh si remaja ini
Penjaga Kunci
Adakah dari kita yang sama sekali tidak memiliki kunci? Apapun itu, kunci motor, kunci mobil, kunci kamar ataupun kunci rumah? Berikut ini sedikit cerita tentang kunci.
Penjaga kunci di Istana adalah orang yang paling sibuk, karena selain harus menjaga kunci beberapa kamar, mereka juga harus dapat membuka kamar yang dikunci. Karena pada jaman dulu, tidak semua orang mengetahui untuk kegunaan apa kamar-kamar di dalam istana, tak seorang pun mengerti kapan kamar tersebut harus digunakan.
Begitu banyaknya kamar di setiap lantai dan koridor ruangan, maka penjaga pintu tidak hanya satu orang saja. Butuh ratusan penjaga pintu untuk mengontrol ruangan beserta kuncinya. Saat itu satu kamar hanya bisa dibuka menggunakan satu kunci. Beberapa dari penjaga pintu hanya memegang dan mengontrol satu kunci. Sedangkan beberapa lainnya, dapat memegang lebih dari 1 kunci.
Sang Raja saat itu sedang sakit dan karena tidak memiliki garis keturunan, sang raja harus segera menentukan siapa pewaris tahta kerjaan selanjutnya. Sang raja kemudian memutuskan untuk mengambil orang dari istana untuk meneruskan nahkoda kepemimpinannya, tapi siapakah orang yang cocok untuk hal itu?
Di saat semua sibuk membicarakan siapa yang akan menjadi penerus Raja selanjutnya, terjadi kehebohan di Ruang Tengah. Banyak yang histeris, berteriak dan terperangah. Sang Raja ternyata telah menemukan siapa pewaris kerajaannya.
"Kenapa harus dia , baginda Raja. Saya sudah mengabdi lebih lama darinya" Teriak seorang penjaga kunci.
"Apa yang kamu sudah lakukan selama hidup mengabdi mu?"
"Saya menjaga dan membawa terus kunci ruangan tempat baginda Raja sering berkunjung jika sedang ingin membaca. Saya tahu ruangan itu sangat penting bagi Raja, sehingga kunci ini selalu saya pegang kemanapun saya pergi" suara penjaga kunci itu begitu mantap terdengar di Aula di depan Raja.
"Kamu begitu mengerti bahwa ruangan itu sering saya kunjungi, dan begitu pandai dalam menjaga kunci itu. Oleh karena itu, saya tetap membutuhkan kamu untuk menjaga ruangan dan kunci itu, karena tidak ada orang yang lebih cocok untuk menjaga kunci itu selain kamu" Tutur Sang Raja
"Tahukah kamu, betapa banyak waktu yang saya habiskan dalam ruangan itu? Dan karena kamu memegang terus kunci itu kemanapun kamu pergi, maka saya harus menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk mencari kamu, karena hanya kamu tahu letak dimana kunci tersebut. Dan ternyata selama ini kamu selalu membawanya kemanapun kamu pergi"
Penjaga kunci akhirnya terdiam, namun di belakangnya muncul suara pengaduan yang mirip dengannya, suara itu adalah si penjaga kunci kedua. "Bagaimana dengan saya, saya memegang kunci lebih dari satu ruangan, dan saya hapal benar kunci mana yang dapat membuka ruangan-ruangan di dalam istana"
"Ah ya, kamu. Kamu memang memegang banyak kunci dan tahu benar kunci apa yang digunakan untuk membuka ruangan. Namun, tahukah kamu bahwa karena ketidakmawasan kamu, maka setiap kamar yang sudah kamu buka tidak pernah kamu tutup kembali. Akibatnya kuncinya sering hilang dan terima kasih untuk kamu , karena berkat kamu kunci ruangan selalu berubah-ubah setiap kali kamu membuka pintu" Bentak sang Raja.
"Saya memilih dia, walau sebagai sesama penjaga kunci, namun dia memiliki apa yang tidak kalian miliki. Dia, walau memegang kunci yang lebih banyak, namun saya tidak pernah kesulitan untuk membuka ruangan yang saya inginkan. Bahkan saya dengan mudahnya dapat menemukan kunci di ruangan di lantai bawah, tanpa harus mengerahkan semua waktuku untuk mencari orang yang memegang kunci kemanapun dia pergi ataupun selalu waspada karena kunci ruangan pasti akan berubah karena setiap kali dibuka pasti hilang!"
"Saya memilih dia yang dengan sedikit perjuangan dan kesusahpayahan dia, dia membuat pencarian kunci ruangan menjadi lebih sistematis, dan sekalipun dia tidak ada (sakit), saya tidak akan kewalahan mencari kuncinya. Setiap kunci dia tandai dengan nomor ruangan dan disimpan dalam kotak khusus dan ditandai bagaimana cara membuka tiap-tiap ruangan. Dia juga mengajarkan saya bagaimana cara menemukan dan menggunakan kunci. Manakala dia tidak ada, saya masih tetap bisa membuka ruangan tersebut"
Dari cerita di atas:
Adakah dari kita yang selalu memegang kunci tersebut kemanapun kita pergi?
Atau kita yang sering lupa dan meletakkan dengan sembarangan kunci tersebut dan mulai kebingungan ketika kita membutuhkan kunci itu?
Atau kita sudah mempersiapkan segalanya, membuat penanda, menyimpan dan meletakkan kunci di tempat yang seharusnya dan dapat dijangkau agar orang lain pun dapat menggunakannya di saat kita tidak ada?
Sudahkah kita melakukan hal demikian? tentunya bukan "kunci" biasa yang saya maksud.
Penjaga kunci di Istana adalah orang yang paling sibuk, karena selain harus menjaga kunci beberapa kamar, mereka juga harus dapat membuka kamar yang dikunci. Karena pada jaman dulu, tidak semua orang mengetahui untuk kegunaan apa kamar-kamar di dalam istana, tak seorang pun mengerti kapan kamar tersebut harus digunakan.
Begitu banyaknya kamar di setiap lantai dan koridor ruangan, maka penjaga pintu tidak hanya satu orang saja. Butuh ratusan penjaga pintu untuk mengontrol ruangan beserta kuncinya. Saat itu satu kamar hanya bisa dibuka menggunakan satu kunci. Beberapa dari penjaga pintu hanya memegang dan mengontrol satu kunci. Sedangkan beberapa lainnya, dapat memegang lebih dari 1 kunci.
Sang Raja saat itu sedang sakit dan karena tidak memiliki garis keturunan, sang raja harus segera menentukan siapa pewaris tahta kerjaan selanjutnya. Sang raja kemudian memutuskan untuk mengambil orang dari istana untuk meneruskan nahkoda kepemimpinannya, tapi siapakah orang yang cocok untuk hal itu?
Di saat semua sibuk membicarakan siapa yang akan menjadi penerus Raja selanjutnya, terjadi kehebohan di Ruang Tengah. Banyak yang histeris, berteriak dan terperangah. Sang Raja ternyata telah menemukan siapa pewaris kerajaannya.
"Kenapa harus dia , baginda Raja. Saya sudah mengabdi lebih lama darinya" Teriak seorang penjaga kunci.
"Apa yang kamu sudah lakukan selama hidup mengabdi mu?"
"Saya menjaga dan membawa terus kunci ruangan tempat baginda Raja sering berkunjung jika sedang ingin membaca. Saya tahu ruangan itu sangat penting bagi Raja, sehingga kunci ini selalu saya pegang kemanapun saya pergi" suara penjaga kunci itu begitu mantap terdengar di Aula di depan Raja.
"Kamu begitu mengerti bahwa ruangan itu sering saya kunjungi, dan begitu pandai dalam menjaga kunci itu. Oleh karena itu, saya tetap membutuhkan kamu untuk menjaga ruangan dan kunci itu, karena tidak ada orang yang lebih cocok untuk menjaga kunci itu selain kamu" Tutur Sang Raja
"Tahukah kamu, betapa banyak waktu yang saya habiskan dalam ruangan itu? Dan karena kamu memegang terus kunci itu kemanapun kamu pergi, maka saya harus menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk mencari kamu, karena hanya kamu tahu letak dimana kunci tersebut. Dan ternyata selama ini kamu selalu membawanya kemanapun kamu pergi"
Penjaga kunci akhirnya terdiam, namun di belakangnya muncul suara pengaduan yang mirip dengannya, suara itu adalah si penjaga kunci kedua. "Bagaimana dengan saya, saya memegang kunci lebih dari satu ruangan, dan saya hapal benar kunci mana yang dapat membuka ruangan-ruangan di dalam istana"
"Ah ya, kamu. Kamu memang memegang banyak kunci dan tahu benar kunci apa yang digunakan untuk membuka ruangan. Namun, tahukah kamu bahwa karena ketidakmawasan kamu, maka setiap kamar yang sudah kamu buka tidak pernah kamu tutup kembali. Akibatnya kuncinya sering hilang dan terima kasih untuk kamu , karena berkat kamu kunci ruangan selalu berubah-ubah setiap kali kamu membuka pintu" Bentak sang Raja.
"Saya memilih dia, walau sebagai sesama penjaga kunci, namun dia memiliki apa yang tidak kalian miliki. Dia, walau memegang kunci yang lebih banyak, namun saya tidak pernah kesulitan untuk membuka ruangan yang saya inginkan. Bahkan saya dengan mudahnya dapat menemukan kunci di ruangan di lantai bawah, tanpa harus mengerahkan semua waktuku untuk mencari orang yang memegang kunci kemanapun dia pergi ataupun selalu waspada karena kunci ruangan pasti akan berubah karena setiap kali dibuka pasti hilang!"
"Saya memilih dia yang dengan sedikit perjuangan dan kesusahpayahan dia, dia membuat pencarian kunci ruangan menjadi lebih sistematis, dan sekalipun dia tidak ada (sakit), saya tidak akan kewalahan mencari kuncinya. Setiap kunci dia tandai dengan nomor ruangan dan disimpan dalam kotak khusus dan ditandai bagaimana cara membuka tiap-tiap ruangan. Dia juga mengajarkan saya bagaimana cara menemukan dan menggunakan kunci. Manakala dia tidak ada, saya masih tetap bisa membuka ruangan tersebut"
Dari cerita di atas:
Adakah dari kita yang selalu memegang kunci tersebut kemanapun kita pergi?
Atau kita yang sering lupa dan meletakkan dengan sembarangan kunci tersebut dan mulai kebingungan ketika kita membutuhkan kunci itu?
Atau kita sudah mempersiapkan segalanya, membuat penanda, menyimpan dan meletakkan kunci di tempat yang seharusnya dan dapat dijangkau agar orang lain pun dapat menggunakannya di saat kita tidak ada?
Sudahkah kita melakukan hal demikian? tentunya bukan "kunci" biasa yang saya maksud.
Perubahan : Dimulai dari diri sendiri
Semua pasti mengenal kata dari Perubahan. Wujud asli dari kata tersebut adalah Berubah atau biasanya dikenal sebagai reformasi, transform atau change. Namun kita tidak akan berbicara bagaimana Reformasi pada Negri ini, ataupun wujud-wujud Transformasi dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
Mungkin dari kita ada yang pernah mendengar tentang ungkapan ataupun cerita mengenai sosok orang tangguh yang berniat untuk mengubah dunia? Saat muda, dia sangat bersemangat untuk mengubah Dunia, karena dia yakin jika bisa mengubah dunia, maka itu akan lebih baik untuk banyak orang. Hingga pada saat usianya tak lagi muda, dia menyadari bahwa mengubah dunia ini terlalu berat. Lalu dia putuskan untuk mengubah Negaranya saja, dia berpikir mungkin mengubah nasib masyarakat yang sama ideologinya lebih mudah untuk dilakukan.
Itupun tak semudah yang dia pikirkan, Negara merupakan perwujudan sekumpulan masyarakat dan betapa susahnya untuk mengubah mereka. Lalu dia pun mulai memikirkan ruang lingkup yang lebih kecil, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengubah lingkungan tempat dia tinggal. Mungkin diawali dengan lingkungan lebih kecil dan sudah dipahami, maka hal itu akan mudah dilakukannya. Dan sekali lagi dia menemukan betapa sulitnya mengubah lingkungan tempat tinggalnya. Hingga akhirnya dia melihat keluarganya sebagai lingkungan masyarakat terkecil. Ah, ini pasti bisa, pikirnya. Dia berusaha untuk mengubah keluarganya.
Dan hingga sampai di akhir hidupnya, dia kemudian menyadari bahwa satu-satunya yang bisa dia ubah bukanlah keluarganya, namun dirinya sendiri.
Dari cerita di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa seringkali kita memaksakan orang lain untuk berubah, berubah mengikuti kehendak kita. Tanpa disadari bahwa mereka takkan berubah hanya karena kita memaksa mereka mengikuti keinginan kita? Coba kita menempatkan diri kita di posisi sebaliknya, akankah kita berubah untuk mereka karena mereka mengharuskan kita berubah sesuai dengan kehendak mereka? Tentu jawabannya tidak.
Namun saya akan berikan cara bagaimana mereka dapat berubah sesuai dengan kehendak kita, tanpa kita memaksakan mereka harus berubah. Dalam hal ini, yang ingin saya katakan adalah mereka berubah karena kita berubah. Maksudnya?
Saya berikan contoh cerita seperti berikut:
Ada mahasiswa yang kasar dan berandal di kampus. Katakanlah itu si A. si A ini sering menjelek-jelekkan orang, suka memukul dan menindas yang lemah.
Apakah orang seperti dia akan disukai banyak orang? Tentu tidak.
Apakah orang seperti ini akan memiliki banyak teman? kita meragukan itu.
Dan jika saat ini si A mengharapkan orang lain sebagai temannya, apakah memungkinkan?
Jika sikap si A masih sama seperti dulu, beringas dan berandal? Dengan kelakuannya seperti tersebut, wajar dia dimusuhi oleh seisi kampus.
Namun suatu hari si A memperbaiki sikapnya, dia sadar bahwa selama ini dirinya bersikap kasar, sehingga dia merendahkan tutur kata-katanya menjadi lembut, dia rajin membantu orang di sekitarnya dan bersikap baik. Apakah teman-temannya masih melihat si A ini sebagai seorang penjahat? Pada awalnya teman-temannya mungkin ragu untuk mendekatinya, namun perlahan tapi pasti , jika si A terus memperbaiki sikap dan sifatnya, maka tidak lama lagi tentunya dia akan didekati banyak teman.
Kita melihat dari cerita si A di atas. Sikap Teman-temannya berubah KETIKA si A mengubah sikapnya. Jadi tidak secara ajaib ya, teman-temannya berubah karena si A menginginkan teman! Tapi karena si A mengubah tabiatnya, sehingga PERSEPSI orang terhadapnya BERUBAH.
Saya berikan ilustrasi lebih sederhana: jika kita mengharapkan tamu untuk datang ke rumah, apakah kita tetap mengunci pintu rumah kita dengan rapat? Pintu di rumah harus kita bukakan lebar-lebar untuk menerima mereka, dengan demikian mereka akan dengan lega hati memasuki rumah kita dengan nyaman.
Last, but not least:
Jika kita ingin mengubah orang lain, kita harus mengubah diri kita.
Namun untuk mengubah diri kita, kita harus mengenal jati diri kita, dan
untuk mengenal jati diri kita, kita harus menerima diri kita apa adanya terlebih dahulu.
Mungkin dari kita ada yang pernah mendengar tentang ungkapan ataupun cerita mengenai sosok orang tangguh yang berniat untuk mengubah dunia? Saat muda, dia sangat bersemangat untuk mengubah Dunia, karena dia yakin jika bisa mengubah dunia, maka itu akan lebih baik untuk banyak orang. Hingga pada saat usianya tak lagi muda, dia menyadari bahwa mengubah dunia ini terlalu berat. Lalu dia putuskan untuk mengubah Negaranya saja, dia berpikir mungkin mengubah nasib masyarakat yang sama ideologinya lebih mudah untuk dilakukan.
Itupun tak semudah yang dia pikirkan, Negara merupakan perwujudan sekumpulan masyarakat dan betapa susahnya untuk mengubah mereka. Lalu dia pun mulai memikirkan ruang lingkup yang lebih kecil, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengubah lingkungan tempat dia tinggal. Mungkin diawali dengan lingkungan lebih kecil dan sudah dipahami, maka hal itu akan mudah dilakukannya. Dan sekali lagi dia menemukan betapa sulitnya mengubah lingkungan tempat tinggalnya. Hingga akhirnya dia melihat keluarganya sebagai lingkungan masyarakat terkecil. Ah, ini pasti bisa, pikirnya. Dia berusaha untuk mengubah keluarganya.
Dan hingga sampai di akhir hidupnya, dia kemudian menyadari bahwa satu-satunya yang bisa dia ubah bukanlah keluarganya, namun dirinya sendiri.
Dari cerita di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa seringkali kita memaksakan orang lain untuk berubah, berubah mengikuti kehendak kita. Tanpa disadari bahwa mereka takkan berubah hanya karena kita memaksa mereka mengikuti keinginan kita? Coba kita menempatkan diri kita di posisi sebaliknya, akankah kita berubah untuk mereka karena mereka mengharuskan kita berubah sesuai dengan kehendak mereka? Tentu jawabannya tidak.
Namun saya akan berikan cara bagaimana mereka dapat berubah sesuai dengan kehendak kita, tanpa kita memaksakan mereka harus berubah. Dalam hal ini, yang ingin saya katakan adalah mereka berubah karena kita berubah. Maksudnya?
Saya berikan contoh cerita seperti berikut:
Ada mahasiswa yang kasar dan berandal di kampus. Katakanlah itu si A. si A ini sering menjelek-jelekkan orang, suka memukul dan menindas yang lemah.
Apakah orang seperti dia akan disukai banyak orang? Tentu tidak.
Apakah orang seperti ini akan memiliki banyak teman? kita meragukan itu.
Dan jika saat ini si A mengharapkan orang lain sebagai temannya, apakah memungkinkan?
Jika sikap si A masih sama seperti dulu, beringas dan berandal? Dengan kelakuannya seperti tersebut, wajar dia dimusuhi oleh seisi kampus.
Namun suatu hari si A memperbaiki sikapnya, dia sadar bahwa selama ini dirinya bersikap kasar, sehingga dia merendahkan tutur kata-katanya menjadi lembut, dia rajin membantu orang di sekitarnya dan bersikap baik. Apakah teman-temannya masih melihat si A ini sebagai seorang penjahat? Pada awalnya teman-temannya mungkin ragu untuk mendekatinya, namun perlahan tapi pasti , jika si A terus memperbaiki sikap dan sifatnya, maka tidak lama lagi tentunya dia akan didekati banyak teman.
Kita melihat dari cerita si A di atas. Sikap Teman-temannya berubah KETIKA si A mengubah sikapnya. Jadi tidak secara ajaib ya, teman-temannya berubah karena si A menginginkan teman! Tapi karena si A mengubah tabiatnya, sehingga PERSEPSI orang terhadapnya BERUBAH.
Saya berikan ilustrasi lebih sederhana: jika kita mengharapkan tamu untuk datang ke rumah, apakah kita tetap mengunci pintu rumah kita dengan rapat? Pintu di rumah harus kita bukakan lebar-lebar untuk menerima mereka, dengan demikian mereka akan dengan lega hati memasuki rumah kita dengan nyaman.
Last, but not least:
Jika kita ingin mengubah orang lain, kita harus mengubah diri kita.
Namun untuk mengubah diri kita, kita harus mengenal jati diri kita, dan
untuk mengenal jati diri kita, kita harus menerima diri kita apa adanya terlebih dahulu.
Batu Kehidupan : Warna Warni Kehidupan
Kali ini saya akan memberikan cerita mengenai "batu kehidupan" yang hampir selalu kita temukan. Batu ini bukanlah batu granit atau batu kapur yang dapat ditemukan dan dipegang dengan kasat mata. Batu ini pun tidak berwarna dan tidak memiliki bentuk yang pasti. Bentuknya ada yang persegi, tajam pada ujungnya, dan kadang-kadang berbentuk tumpul. Batu ini banyak sekali tersebar dimana-mana.
Seorang remaja menjalani hidup ini selayaknya mengitari ruas jalan yang terbentang di hadapannya. Sembari jalan, dia menemukan batu-batu tersebut sedemikian "menarik". Kata menarik di sini memiliki makna yang tidak tergantung hanya pada hal-hal yang baik. Karena kadang hal-hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita dapat kita definisikan sebagai "menarik". Dalam perjalanan hidupnya, remaja ini dibekali dengan keranjang yang dapat digunakan untuk mengisi batu-batunya.
Seorang remaja menjalani hidup ini selayaknya mengitari ruas jalan yang terbentang di hadapannya. Sembari jalan, dia menemukan batu-batu tersebut sedemikian "menarik". Kata menarik di sini memiliki makna yang tidak tergantung hanya pada hal-hal yang baik. Karena kadang hal-hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita dapat kita definisikan sebagai "menarik". Dalam perjalanan hidupnya, remaja ini dibekali dengan keranjang yang dapat digunakan untuk mengisi batu-batunya.
Warna mobilnya hijau atau merah?
Setelah sekian lama vakum, akhirnya bamboroo kembali :P
Kali ini sebuah kejadian nyata menginspirasi cerita bamboroo. Ada 3 orang saling beragumen mengenai warna mobil yang ada di hadapan mereka. Katakanlah si A, si B dan si C. A dan B berdiri saling berhadapan kiri dan kanan sedangkan C berdiri di depan mobil.
Si A mengatakan bahwa mobil di depannya berwarna hijau. Namun si B menepis pernyataan si A dan mengatakan bahwa warna mobil yang benar adalah merah. Sedangkan C menepis pernyataan A dan B, dengan mengatakan bahwa mobil itu bukan berwarna merah ataupun hijau. Namun si C juga tidak bisa memberikan warna yang pasti untuk mobil yang dilihat di depannya. Mereka bertiga beragumen cukup lama hingga tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Ketiganya yakin dengan mata sendiri bahwa mereka tidak buta warna maupun tidak ingin berbohong terhadap satu sama lain. Jadi, Manakah warna yang benar? Padahal mobil yang menjadi objek mereka adalah sebuah mobil yang sama.
Bagaimana sebuah mobil yang memiliki bentuk yang sama, berada tepat di hadapan orang dan ternyata bisa memiliki 3 bentuk warna untuk tiga orang?
Berikut ini adalah penampakan mobil tersebut:

Bagaimana menurut anda? apakah si A benar? atau si B tidak salah? (sama aja ;p)
Jika kita melihat dari satu sudut pandang, maka pastilah kita hanya akan menebak satu warna untuk keseluruhan mobil tersebut. Padahal tidak semua mobil dapat dikategorikan seperti demikian. Andai saja si A maupun si B mau melihat dari sudut pandang orang lain, tentunya mereka tidak akan saling beragumen tentang warna mobil tersebut. Mobil itu berwarna hijau di sisi yang satu , dan di sisi yang lain berwarna merah, bahkan di bagian tengah mobil berwarna putih!
Sama halnya dengan permasalahan yang sering kita hadapi. Sering sekali ketika kita menemukan masalah, kita mulai menjustifikasi dari sudut pandang yang kita miliki. Lebih banyak dari kita hanya sekilas melihat suatu masalah lalu mulai main hakim sendiri dengan melontarkan konsep-konsep yang tujuan akhirnya mengintimidasi lawan kita. Kita juga lebih suka mempertahankan posisi kita sembari beragumen melalui teropong kecil yang kita lihat.
Bukankah lebih baik kita duduk bersama, saling tukar pandangan dan mulai melihat dari sudut pandang yang berbeda? Dengan demikian kita memiliki view secara 360 derajat terhadap masalah yang kita hadapi, dan tentunya pemecahan terhadap masalah yang dihadapi dapat segera ditemukan. Bukankah itu yang kita inginkan?
Lantas bagaimana dengan si C ? Dalam konteks ini ada pihak yang tahu persis bahwa baik A maupun B tidak salah, namun mereka tidak dapat mengambil sikap terhadap permasalahan yang ada. Jika anda menjadi seseorang yang berada di posisi C, apakah yang akan anda lakukan? Duduk dan menyaksikan A dan B saling bertengkar? atau anda malah sedang sibuk mencari sebutan warna mobil yang tepat untuk mereka?
Tentunya untuk meredakan ketegangan yang terjadi, lebih bijak jika C mengajak A dan B untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Dengan demikian, pertentangan tidak terjadi terlalu larut.
Apakah anda lebih sering menjadi A atau B? atau C ?
Kali ini sebuah kejadian nyata menginspirasi cerita bamboroo. Ada 3 orang saling beragumen mengenai warna mobil yang ada di hadapan mereka. Katakanlah si A, si B dan si C. A dan B berdiri saling berhadapan kiri dan kanan sedangkan C berdiri di depan mobil.
Si A mengatakan bahwa mobil di depannya berwarna hijau. Namun si B menepis pernyataan si A dan mengatakan bahwa warna mobil yang benar adalah merah. Sedangkan C menepis pernyataan A dan B, dengan mengatakan bahwa mobil itu bukan berwarna merah ataupun hijau. Namun si C juga tidak bisa memberikan warna yang pasti untuk mobil yang dilihat di depannya. Mereka bertiga beragumen cukup lama hingga tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Ketiganya yakin dengan mata sendiri bahwa mereka tidak buta warna maupun tidak ingin berbohong terhadap satu sama lain. Jadi, Manakah warna yang benar? Padahal mobil yang menjadi objek mereka adalah sebuah mobil yang sama.
Bagaimana sebuah mobil yang memiliki bentuk yang sama, berada tepat di hadapan orang dan ternyata bisa memiliki 3 bentuk warna untuk tiga orang?
Berikut ini adalah penampakan mobil tersebut:

Bagaimana menurut anda? apakah si A benar? atau si B tidak salah? (sama aja ;p)
Jika kita melihat dari satu sudut pandang, maka pastilah kita hanya akan menebak satu warna untuk keseluruhan mobil tersebut. Padahal tidak semua mobil dapat dikategorikan seperti demikian. Andai saja si A maupun si B mau melihat dari sudut pandang orang lain, tentunya mereka tidak akan saling beragumen tentang warna mobil tersebut. Mobil itu berwarna hijau di sisi yang satu , dan di sisi yang lain berwarna merah, bahkan di bagian tengah mobil berwarna putih!
Sama halnya dengan permasalahan yang sering kita hadapi. Sering sekali ketika kita menemukan masalah, kita mulai menjustifikasi dari sudut pandang yang kita miliki. Lebih banyak dari kita hanya sekilas melihat suatu masalah lalu mulai main hakim sendiri dengan melontarkan konsep-konsep yang tujuan akhirnya mengintimidasi lawan kita. Kita juga lebih suka mempertahankan posisi kita sembari beragumen melalui teropong kecil yang kita lihat.
Bukankah lebih baik kita duduk bersama, saling tukar pandangan dan mulai melihat dari sudut pandang yang berbeda? Dengan demikian kita memiliki view secara 360 derajat terhadap masalah yang kita hadapi, dan tentunya pemecahan terhadap masalah yang dihadapi dapat segera ditemukan. Bukankah itu yang kita inginkan?
Lantas bagaimana dengan si C ? Dalam konteks ini ada pihak yang tahu persis bahwa baik A maupun B tidak salah, namun mereka tidak dapat mengambil sikap terhadap permasalahan yang ada. Jika anda menjadi seseorang yang berada di posisi C, apakah yang akan anda lakukan? Duduk dan menyaksikan A dan B saling bertengkar? atau anda malah sedang sibuk mencari sebutan warna mobil yang tepat untuk mereka?
Tentunya untuk meredakan ketegangan yang terjadi, lebih bijak jika C mengajak A dan B untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Dengan demikian, pertentangan tidak terjadi terlalu larut.
Apakah anda lebih sering menjadi A atau B? atau C ?
..Sadarkah Kamu di saat ini?
Bamboroo terlihat sedang kesal dan menyendiri di taman. Mengetahui hal itu sang Kakek kemudian mengajak Bamboroo untuk jalan-jalan di sekitar rumah. Walau mereka jalan hanya berdua, namun kekesalan Bamboroo sepertinya menunda komunikasi antara sang kakek dengan cucunya.
Mereka berjalan hampir selama 10 menit, 20 menit dan akhirnya hampir setengah jam mereka mengitari kompleks di sekitar rumah tanpa berbicara sepatah kata pun.
Selama itu pula sang kakek tidak memperhatikan cucunya. Sang Kakek tetap berjalan dengan langkah mantap, tersenyum dan menyapa orang-orang yang ditemuinya. Berbeda dengan Bamboroo. Dengan wajah kusam, langkah kakinya terlalu berat hingga dia seakan-akan harus menyeret kedua kakinya agar dirinya bisa terus mengikuti ke mana arah sang Kakek.
Di persimpangan jalan, sang kakek berhenti dan mencari tempat duduk untuk istirahat sejenak. Akhirnya sang kakek membuka pembicaraan dengan si cucu.
"Cu, bagaimana kabar teman kamu, si Eric?" tanya si Kakek.
"Eric? Sudah lama tidak ketemu dengannya, mungkin dia sedang sibuk dengan bisnis barunya. Kabarnya dia juga sering ke luar kota untuk promosi bisnisnya" balas si Bamboroo.
"Oh.. begitu ya Cu. Terus kakek dengar katanya di sekitar kompleks akan dibangun tempat olahraga ya, nanti kalau sudah selesai kakek mau olahraga di sana. Cucu bisa temenin kakek kan?"
"Yah Kakek.. Tempat olahraganya masih lama dibuka, 3 bulan yang lalu katanya mau soft opening tapi sampai sekarang renovasinya belum selesai. Tapi nanti saya temenin kok Kek"
"Jadi kamu akan temenin Kakek olahraga kalau tempatnya sudah buka?" balas sang Kakek.
"Iya Kek", Bamboroo menjawab juga dengan cepat dengan nada agak kesal karena merasa perkataannya tidak begitu dipercaya oleh sang Kakek.
"Nah, Kalau begitu kamu cepat ganti baju olahraga ya, kakek tunggu kamu di sini. Kita langsung ke tempat olahraga tadi"
"Lho Kek, kok suruh ganti baju olahraga di sini? kan jarak dari rumah masih jauh. Lagian tempat olahraganya juga belum buka, mana bisa olahraga kek?"
"Cu, sadarkah kamu bahwa kamu sekarang sedang berada tepat di depan rumah?"
"Hah?!", Bamboroo terkejut dan membalikkan badannya. Posisi mereka tepat berada di depan rumah. Belum selesai perasaan terkejut yang dirasanya, sang Kakek berkata "Tempat Olahraga yang kamu bilang barusan, hari ini Soft Opening"
"Hah?! Masa sih? Kemarin katanya ditunda karena masih direnovasi", Bamboroo kali ini yakin bahwa dia tidak salah melihat tanda renovasi yang dipasang saat dirinya melewati tempat itu.
"Kamu melihatnya waktu 3 bulan yang lalu bukan? Sadarkah kamu ketika kakek mengajak kamu berkeliling kompleks, kita melewati tempat itu. Dan kakek yakin dengan penglihatan kakek bahwa tempat itu sudah buka dan tadi sangat ramai sekali. Banyak orang lalu lalang untuk registrasi"
"Masa sih? perasaan tadi kita jalan hanya berdua dan tidak melewati tempat itu Kek"
"Kita memang berdua saat kakek mengajak kamu berkeliling. Di tengah jalan kita ketemu dengan teman kamu, Eric. Eric mengatakan bahwa tempat olahraga di kompleks kita sudah dibuka dan dia hendak registrasi. Karena kakek tidak tahu tempatnya, maka dia menawarkan diri untuk menunjukkan jalan ke sana. Sesampainya di tempat olahraga itu kita berpisah. Dan sampailah kita di sini"
"Hah?! Kok saya tidak tahu tentang itu? Apa kakek hanya mengarang cerita saja?" Bamboroo setengah percaya dengan ucapan kakeknya.
"Jika kamu tidak percaya, maka ini kakek ada bawa formulir registrasi agar bisa mendaftar jadi anggota di tempat olahraga tadi. Jadi kita tinggal mengisi di rumah dan mendaftar di sana. Dengan bukti ini, masihkah kakek dituduh mengarang cerita kepada kamu?"
"Maaf Kek, saya bingung. Kenapa bisa seperti ini ya?" Bamboroo terlihat frustasi menemukan dirinya tidak bisa menemukan kenyataan bahwa serangkaian cerita yang dikatakan oleh Kakeknya benar-benar terjadi. Bagaimana mungkin cerita itu sedemikian nyata sedangkan dirinya sebenarnya ada di lokasi?
"Cu, apa yang sedang kamu pikirkan saat kakek mengajakmu berkeliling?"
"Kek.. saya.. saya memikirkan masalah yang terjadi tadi pagi dan saya masih merasa kesal tentang itu"
"Cu, masalah yang terjadi tadi pagi mungkin menorehkan luka atau kekesalan yang teramat sangat di hati kamu, namun pantaskah hal itu kamu bawa sampai sekarang? dari pagi sampai sore , kamu menfokuskan dirimu hanya kepada kejadian yang sudah lewat? tanpa menyadari bahwa hal itu sudah berlalu?"
Bamboroo terhenyak kesekian kalinya, menyadari bahwa dia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk sesuatu hal yang sudah terjadi(lewat).
"Saat kamu berpikir terlalu keras untuk hal yang sudah berlalu, kakek malah menikmati sejuknya angin di sore hari, mendapati teman bisnis kamu (eric) hendak berolahraga, menyapa tetangga baru kita dan Pak RT tadi di jalan. Ketika kamu sedang sibuk sendiri, Kakek sudah menyapa begitu banyak orang di jalan", kata Sang Kakek.
"Setiap orang memiliki berat masalah yang sudah ditakar olehNYA, hanya saja kita terkadang terlalu berlebihan dalam menyikapi hasil dari masalah itu. Hiduplah untuk saat ini, bukan hidup untuk merenungi hal-hal yang sudah terjadi"
"Ketika tiba saatnya bermain, maka bermainlah. Ketika bekerja, bekerjalah sepenuh hati. Dan ketika waktunya istirahat, lepaskanlah beban kamu agar kamu bisa beraktivitas untuk hari esok. Jangan merusak irama itu, karena bila sudah rusak maka kamu tidak akan menyadari hal-hal menarik yang terjadi di sekitar kamu"
"Tidak banyak orang yang bisa SADAR saat ini, oleh karena itu penyesalan selalu datang terakhir", tambah sang Kakek.
"Jika suatu hari nanti perasaan seperti itu datang kembali kepada kamu, tanyakan kepada dirimu sendiri.. Sadarkah Kamu di saat ini?"
Mendengar perkataan Sang Kakek, Bamboroo kembali tersenyum.
Mereka berjalan hampir selama 10 menit, 20 menit dan akhirnya hampir setengah jam mereka mengitari kompleks di sekitar rumah tanpa berbicara sepatah kata pun.
Selama itu pula sang kakek tidak memperhatikan cucunya. Sang Kakek tetap berjalan dengan langkah mantap, tersenyum dan menyapa orang-orang yang ditemuinya. Berbeda dengan Bamboroo. Dengan wajah kusam, langkah kakinya terlalu berat hingga dia seakan-akan harus menyeret kedua kakinya agar dirinya bisa terus mengikuti ke mana arah sang Kakek.
Di persimpangan jalan, sang kakek berhenti dan mencari tempat duduk untuk istirahat sejenak. Akhirnya sang kakek membuka pembicaraan dengan si cucu.
"Cu, bagaimana kabar teman kamu, si Eric?" tanya si Kakek.
"Eric? Sudah lama tidak ketemu dengannya, mungkin dia sedang sibuk dengan bisnis barunya. Kabarnya dia juga sering ke luar kota untuk promosi bisnisnya" balas si Bamboroo.
"Oh.. begitu ya Cu. Terus kakek dengar katanya di sekitar kompleks akan dibangun tempat olahraga ya, nanti kalau sudah selesai kakek mau olahraga di sana. Cucu bisa temenin kakek kan?"
"Yah Kakek.. Tempat olahraganya masih lama dibuka, 3 bulan yang lalu katanya mau soft opening tapi sampai sekarang renovasinya belum selesai. Tapi nanti saya temenin kok Kek"
"Jadi kamu akan temenin Kakek olahraga kalau tempatnya sudah buka?" balas sang Kakek.
"Iya Kek", Bamboroo menjawab juga dengan cepat dengan nada agak kesal karena merasa perkataannya tidak begitu dipercaya oleh sang Kakek.
"Nah, Kalau begitu kamu cepat ganti baju olahraga ya, kakek tunggu kamu di sini. Kita langsung ke tempat olahraga tadi"
"Lho Kek, kok suruh ganti baju olahraga di sini? kan jarak dari rumah masih jauh. Lagian tempat olahraganya juga belum buka, mana bisa olahraga kek?"
"Cu, sadarkah kamu bahwa kamu sekarang sedang berada tepat di depan rumah?"
"Hah?!", Bamboroo terkejut dan membalikkan badannya. Posisi mereka tepat berada di depan rumah. Belum selesai perasaan terkejut yang dirasanya, sang Kakek berkata "Tempat Olahraga yang kamu bilang barusan, hari ini Soft Opening"
"Hah?! Masa sih? Kemarin katanya ditunda karena masih direnovasi", Bamboroo kali ini yakin bahwa dia tidak salah melihat tanda renovasi yang dipasang saat dirinya melewati tempat itu.
"Kamu melihatnya waktu 3 bulan yang lalu bukan? Sadarkah kamu ketika kakek mengajak kamu berkeliling kompleks, kita melewati tempat itu. Dan kakek yakin dengan penglihatan kakek bahwa tempat itu sudah buka dan tadi sangat ramai sekali. Banyak orang lalu lalang untuk registrasi"
"Masa sih? perasaan tadi kita jalan hanya berdua dan tidak melewati tempat itu Kek"
"Kita memang berdua saat kakek mengajak kamu berkeliling. Di tengah jalan kita ketemu dengan teman kamu, Eric. Eric mengatakan bahwa tempat olahraga di kompleks kita sudah dibuka dan dia hendak registrasi. Karena kakek tidak tahu tempatnya, maka dia menawarkan diri untuk menunjukkan jalan ke sana. Sesampainya di tempat olahraga itu kita berpisah. Dan sampailah kita di sini"
"Hah?! Kok saya tidak tahu tentang itu? Apa kakek hanya mengarang cerita saja?" Bamboroo setengah percaya dengan ucapan kakeknya.
"Jika kamu tidak percaya, maka ini kakek ada bawa formulir registrasi agar bisa mendaftar jadi anggota di tempat olahraga tadi. Jadi kita tinggal mengisi di rumah dan mendaftar di sana. Dengan bukti ini, masihkah kakek dituduh mengarang cerita kepada kamu?"
"Maaf Kek, saya bingung. Kenapa bisa seperti ini ya?" Bamboroo terlihat frustasi menemukan dirinya tidak bisa menemukan kenyataan bahwa serangkaian cerita yang dikatakan oleh Kakeknya benar-benar terjadi. Bagaimana mungkin cerita itu sedemikian nyata sedangkan dirinya sebenarnya ada di lokasi?
"Cu, apa yang sedang kamu pikirkan saat kakek mengajakmu berkeliling?"
"Kek.. saya.. saya memikirkan masalah yang terjadi tadi pagi dan saya masih merasa kesal tentang itu"
"Cu, masalah yang terjadi tadi pagi mungkin menorehkan luka atau kekesalan yang teramat sangat di hati kamu, namun pantaskah hal itu kamu bawa sampai sekarang? dari pagi sampai sore , kamu menfokuskan dirimu hanya kepada kejadian yang sudah lewat? tanpa menyadari bahwa hal itu sudah berlalu?"
Bamboroo terhenyak kesekian kalinya, menyadari bahwa dia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk sesuatu hal yang sudah terjadi(lewat).
"Saat kamu berpikir terlalu keras untuk hal yang sudah berlalu, kakek malah menikmati sejuknya angin di sore hari, mendapati teman bisnis kamu (eric) hendak berolahraga, menyapa tetangga baru kita dan Pak RT tadi di jalan. Ketika kamu sedang sibuk sendiri, Kakek sudah menyapa begitu banyak orang di jalan", kata Sang Kakek.
"Setiap orang memiliki berat masalah yang sudah ditakar olehNYA, hanya saja kita terkadang terlalu berlebihan dalam menyikapi hasil dari masalah itu. Hiduplah untuk saat ini, bukan hidup untuk merenungi hal-hal yang sudah terjadi"
"Ketika tiba saatnya bermain, maka bermainlah. Ketika bekerja, bekerjalah sepenuh hati. Dan ketika waktunya istirahat, lepaskanlah beban kamu agar kamu bisa beraktivitas untuk hari esok. Jangan merusak irama itu, karena bila sudah rusak maka kamu tidak akan menyadari hal-hal menarik yang terjadi di sekitar kamu"
"Tidak banyak orang yang bisa SADAR saat ini, oleh karena itu penyesalan selalu datang terakhir", tambah sang Kakek.
"Jika suatu hari nanti perasaan seperti itu datang kembali kepada kamu, tanyakan kepada dirimu sendiri.. Sadarkah Kamu di saat ini?"
Mendengar perkataan Sang Kakek, Bamboroo kembali tersenyum.
Siapakah orang terpenting dalam hidupmu?
Di suatu hari, sang kakek mengajak Bamboroo berkeliling ke taman. Cuaca saat itu memang cocok untuk mereka yang senang menikmati jalan sore. Lalu lalang orang memenuhi taman itu. Banyak yang datang membawa sanak keluarga, anak-anak bermain riang, ada yang bersepeda, bermain bola dan kejar-kejaran.
Di tengah keramaian itu sedang diadakan permainan kecil. Permainan sederhana dengan topik "10 orang terpenting dalam hidupmu".
Ada kejadian menarik ketika salah satu pemuda diberikan pertanyaan:
"Nak, siapa 10 orang terpenting dalam hidupmu?"
Pertanyaan itu pun dijawab dengan mudah oleh si pemuda. Tentunya dimulai dari orang tua, saudara, tetangga dan teman atau kerabat. Namun pertanyaan tersebut hanyalah pertanyaan pembuka karena sesaat setelah si pemuda menjawab pertanyaan tersebut, pertanyaan kedua kembali menyusul.
Tidak beda jauh dengan pertanyaan pertama hanya saja kali ini si pemuda diharuskan memilih 8 orang. Pertanyaan demi pertanyaan muncul hingga akhirnya sampailah ke pertanyaan ini:
"Dari 5 orang ini, manakah 3 orang terpenting dalam hidupmu?"
"Orang tua, Istri dan Anak", sahut si pemuda.
"Ok, kalau begitu dari 3 orang ini, pilih satu yang paling penting dalam hidupmu"
Si pemuda terkejut. Kenapa harus memilih dari 3 orang ini, ketiga orang ini sangat penting baginya. Setelah lama berpikir, akhirnya si pemuda mulai mengeluarkan suaranya.
"Satu orang yang terpenting dalam hidup saya..adalah dia yang terpenting di antara 3 orang ini."
Semua pengunjung terdiam sejenak, beberapa dari mereka mungkin sedang memikirkan apa pilihan mereka jika ditanyakan pertanyaan seperti itu.
"Dia adalah istri saya"
Hening.. sampai akhirnya pemuda itu melanjutkan jawabannya "Orang tua suatu saat akan meninggalkan kita, anak ketika dewasa akan melanjutkan hidup dan pada akhirnya akan memiliki keluarga sendiri. Sedangkan istri, suka duka selalu bersama, susah senang berdua, pasangan hidup sampai mati. Dia yang mendampingi saya sampai akhir hidup nanti. Jadi orang terpenting dalam hidup saya adalah istri saya".
Sepulang dari taman, Bamboroo menanyakan kembali mengenai kejadian tadi sore kepada kakeknya.
"Benarkah kek apa yang dikatakan pemuda itu mengenai orang yang terpenting dalam hidup ini?"
Kakek hanya tersenyum dan berkata "Suatu hari nanti kamu pasti akan tahu jawabannya"
Di tengah keramaian itu sedang diadakan permainan kecil. Permainan sederhana dengan topik "10 orang terpenting dalam hidupmu".
Ada kejadian menarik ketika salah satu pemuda diberikan pertanyaan:
"Nak, siapa 10 orang terpenting dalam hidupmu?"
Pertanyaan itu pun dijawab dengan mudah oleh si pemuda. Tentunya dimulai dari orang tua, saudara, tetangga dan teman atau kerabat. Namun pertanyaan tersebut hanyalah pertanyaan pembuka karena sesaat setelah si pemuda menjawab pertanyaan tersebut, pertanyaan kedua kembali menyusul.
Tidak beda jauh dengan pertanyaan pertama hanya saja kali ini si pemuda diharuskan memilih 8 orang. Pertanyaan demi pertanyaan muncul hingga akhirnya sampailah ke pertanyaan ini:
"Dari 5 orang ini, manakah 3 orang terpenting dalam hidupmu?"
"Orang tua, Istri dan Anak", sahut si pemuda.
"Ok, kalau begitu dari 3 orang ini, pilih satu yang paling penting dalam hidupmu"
Si pemuda terkejut. Kenapa harus memilih dari 3 orang ini, ketiga orang ini sangat penting baginya. Setelah lama berpikir, akhirnya si pemuda mulai mengeluarkan suaranya.
"Satu orang yang terpenting dalam hidup saya..adalah dia yang terpenting di antara 3 orang ini."
Semua pengunjung terdiam sejenak, beberapa dari mereka mungkin sedang memikirkan apa pilihan mereka jika ditanyakan pertanyaan seperti itu.
"Dia adalah istri saya"
Hening.. sampai akhirnya pemuda itu melanjutkan jawabannya "Orang tua suatu saat akan meninggalkan kita, anak ketika dewasa akan melanjutkan hidup dan pada akhirnya akan memiliki keluarga sendiri. Sedangkan istri, suka duka selalu bersama, susah senang berdua, pasangan hidup sampai mati. Dia yang mendampingi saya sampai akhir hidup nanti. Jadi orang terpenting dalam hidup saya adalah istri saya".
Sepulang dari taman, Bamboroo menanyakan kembali mengenai kejadian tadi sore kepada kakeknya.
"Benarkah kek apa yang dikatakan pemuda itu mengenai orang yang terpenting dalam hidup ini?"
Kakek hanya tersenyum dan berkata "Suatu hari nanti kamu pasti akan tahu jawabannya"
Powered by Blogger.