on Leave a Comment

When Enough Is Never Enough (Ketika Cukup Tidak Pernah Cukup)

Ungkapan "Mencegah lebih baik daripada Mengobati" sudah sering kita dengar. Tidak hanya untuk penyakit, namun bisa diartikan untuk hal-hal yang tidak dapat diperbaiki jika sudah terlanjur kejadian. Pada Kenyataannya masih banyak di antara kita yang masih sampai saat ini seperti berusaha menguji akan pembenaran kata-kata di atas.

Ini adalah kisah menarik yang akan saya ceritakan. Bermula dari sebuah team baru yang memegang peranan baru. Bisa dibilang bahwa team ini adalah team baru dengan personel baru dan dengan ruang lingkup pekerjaan yang dulunya adalah kerjaan sampingan team lain. Team ini awalnya beranggotakan 2 orang dan kemudian seiring dengan waktu bertambah, pada akhirnya mencapai 8 orang.

Banyaknya deadline yang harus dikejar mengharuskan team ini memacu adrenalin di setiap nafas, tidak hanya saat menjejakkan kakinya ke area kantor, melainkan harus menarik nafas yang panjang saat meletakkan kakinya keluar dari kantor. Sesekali nafas pendek dapat pula ditarik hembuskan jika ada pekerjaan yang "tertangkap" melenceng dari target. Kadang aliran informasi yang tidak lengkap dan sering terputus di tengah jalan, dan terlalu banyak dibumbui ketika sampai di telinga atasan membuat suasana kerja semakin tidak kondusif.

on 1 comment

Kebiasaan (Memang) Tidak Mudah Diubah Namun Itu Bisa!

Tidak semua orang bisa berhenti dari kebiasaan lama mereka. Beberapa dari kita menyadari secara sadar bahwa kebiasaan yang kita jalani sebenarnya tidak memberi manfaat untuk kita. Bahkan kadang kebiasaan tersebut bisa menjurus ke hal yang negatif, baik ke diri sendiri maupun ke orang lain.

Penulis teringat akan salah satu kebiasaan yang sering dilakukan saat masih di bangku sekolah. Kebiasaan ini sering dilakukan saat penulis tidak mendapati menu makanan yang tersaji di meja makan baik di pagi, siang maupun di malam hari. Saat itu (penulis masih anak-anak kelas 8) adalah hal yang lumrah jika melampiaskan rasa lapar dengan membuat salah satu sajian mie instan. Banyak sekali variasi rasa yang ada di mie instan di negara kita. Dari yang berkuah hingga yang kering (goreng), ataupun dalam kemasan cup. Semua mie instan tersebut bagai magnet untuk kebanyakkan orang.

Salah satu kebiasaan yang penulis lakukan saat itu adalah seringnya makan mie instan. Jika menu sarapan dirasa tidak cocok, maka penulis akan mulai memasak mie instan. Begitu juga halnya untuk menu makan siang. Jika di pagi harinya sudah memakan mie instan berkuah, maka biasanya penulis akan menvariasikannya dengan memakan mie instan goreng. Hal yang sama akan terulang untuk malam harinya, biasanya mie instan ini dimakan bersamaan dengan nasi. Orang kita memang terkenal dengan semboyan "jika belum makan nasi, itu namanya belum makan".
on 2 comments

Informasi Kadaluarsa Pada Obat (Simple Itu Belum Tentu Aman)

Cerita ini saya dapatkan saat kami sedang jalan-jalan menuju gerai supermarket. Karena saat itu ada sepupu yang mampir ke rumah, maka sepupu tersebut pun diajak turut. Di dalam mobil, sepupu itu bercerita tentang kejadian yang terjadi belakangan ini menimpa salah satu saudaranya. Saat itu saudaranya sepupu baru selesai pulang dari aktivitas kantoran dan rebahan sebentar di kursi panjang di ruang tamu. Karena rasa lelah yang tidak tertahan, dibukalah kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Dari sekian banyak barang di dalam kulkas, hanya susu yang sepertinya bisa langsung diminum.

Segelas susu pun kini sudah berada digengamannya, dan tidak perlu lama agar isi dari gelas itu berpindah tempat ke dalam perutnya. Namun, rasa susu selepas tegukan pertama sepertinya tidak sesuai dengan gambaran susu yang pernah diminumnya. Saudara itu pun kembali melihat kemasan susu dan mencari tahu letak tanggal kadaluarsa. Hal seperti itu lazim dilakukan karena daya tahan susu yang tidak bisa lama jika sudah dibuka. Ternyata susu tersebut sudah expired atau sudah kadaluarsa.

Tidak ingin makanan yang basi merusak tubuhnya, saudara ini langsung membuka kotak obat dan menemukan obat yang diinginkan. Sekejap mata, obat itu pun ditelannya. Merasa puas akan hasil antisipasinya, si saudara terduduk sebentar dan kembali tersadarkan akan sesuatu. Jika minuman saja mempunyai tanggal kadaluarsa, mungkinkah obat tadi juga memiliki tanggal kadaluarsa ? Alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa obat itu pun ternyata sudah melewati tanggal kadaluarsa.

on Leave a Comment

Krisis Itu Sahabat Kita

Jaman sekarang semua serba mahal, contohnya saja daging sapi mahal, daging ayam juga mahal, harga cabe rawit pun ikutan pedas di kantong. Ada yang bilang sekarang masa perlambatan ekonomi. Banyak kebijakan pemerintah yang mencekik leher, pajak dinaikkan, listrik dan air silih berganti mendaki ke puncak. Belum lagi nilai tukar rupiah yang makin hari makin melemah, konon katanya mau genjot ekspor agar menambah devisa. Sudah pasti yang di-ekspor masih seputaran tanah tempat kita berpijak, bahan baku yang sebenarnya masih bisa kita olah untuk diberikan nilai tambah dan masih banyak yang lain. Ditengah potensi kekayaan SDA di bumi pertiwi ini, nyatanya sekarang kita sedang memasuki periode yang dinamakan Krisis.

Ada banyak sekali krisis yang saat ini sedang booming di negara kita. Kalau mau mengutip kata anak jaman sekarang, lagi trend gitu loch. Sebelumnya kita disuguhi dengan trend batu akik, sekarang kita disuguhi dengan trend krisis.
on Leave a Comment

"Sebentar Lagi" Itu Berapa Lama Sih?

Mungkin kita semua pernah mengalami hal ini: Menunggu. Apakah menunggu kedatangan orang/tamu, menunggu kedatangan paket, menunggu jadwal tayang ataupun menunggu hidangan di restoran. Tanpa disadari, dalam kehidupan manusia, salah satu aktivitas kita adalah menunggu.

Menunggu adalah aktivitas yang paling dihindari kebanyakan orang. Apalagi jika aktivitas tersebut tidak bisa diselingi dengan aktivitas yang lain. Bisa mati gaya, begitulah jika diibaratkan dengan bahasa gaul sekarang. Oleh karena itu, masyarakat kini lebih memilih terlambat dibandingkan harus hadir kepagian. Selalu saja ada kambing hitam yang bisa ditunjuk, umumnya adalah macet di jalan.

Akhir minggu kemarin adalah minggu yang padat dengan jadwal berpergian. Walaupun demikian, semua rencana sudah disusun secara rapi, berurutan dan semua lokasi sudah diatur untuk melewati satu rute yang sama. Tentunya sudah mempertimbangkan jam padat di jalanan, meski hari itu adalah hari libur tapi yang namanya kondisi jalan di ibukota sama sekali tidak bisa diprediksi.
on 17 comments

Jangan Siram Tanaman di Siang Hari, Mati Tanamannya. Benarkah?

Siang itu memang bukan siang di hari minggu, namun hari itu juga bukan hari kerja bagi saya. Alhasil saya terbangun lebih siang dari jam bangun saya biasanya. Bukan tanpa sebab tentunya saya harus mengambil jatah OFF di hari itu. Jatah cuti per tahun yang diberikan oleh kantor saya sudah mencapai limit, dalam artian jatah cuti tersebut tidak dapat diuangkan ataupun diakumulasikan ke periode selanjutnya. Jika tidak mengambil jatah cuti tersebut, maka jatah cuti itu akan hangus. Dipikir-pikir, sayang juga kalau tidak mengambil jatah cuti tersebut. Jadilah hari itu saya libur kerja.

Banyak pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan ketika kita berada di rumah. Selalu saja ada pekerjaan menanti, entah itu merapikan rak buku, membersihkan rak sepatu ataupun membersihkan pekarangan rumah. Prioritas pertama yang bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang ada di depan mata. Sejauh mata memandang, lebih mudah menyiram tanaman di depan rumah, begitu pikir saya ketika beberapa pekerjaan di dalam rumah terselesaikan. Memang harus diakui, butuh waktu yang lumayan banyak untuk menyelesaikan pekerjaan di dalam rumah, jadi saat berada di depan rumah adalah saat dimana matahari sedang terik di atas kepala.

Saat sedang asyik menyiram tanaman, tetangga sebelah mendekati sisi pagar rumah sembari berkata "bukannya tidak boleh ya menyiram di siang hari? nanti mati semua tanamannya lho". Setelah berkata demikian, si tetangga ini masih berada di tempatnya tadi, seolah-olah menunggu jawaban dari saya mengenai pernyataan yang diberikannya.
on 1 comment

Kesehatan Itu Bukan Milik Pribadi

Kring...Kring...Kring...

Seperti itulah bunyi alarm yang sudah saya siapkan untuk membangunkan diri saya di tengah padatnya jadwal tidur akhir minggu ini. Deadline pekerjaan yang sempit, macetnya perjalanan serta panasnya terik matahari di luar akhirnya membuat tubuh ini harus menyambut teman lama yang kadang mampir jika saya lupa menjaga kondisi tubuh. Pagi itu saya kena flu ringan. Susah sekali jika harus bangun di saat waktu istirahat dirasa belum cukup. Rasanya kaki ini terlalu lemah untuk menopang tubuh bagian atasnya. 

Sempat terlewat ide agar tidak masuk ke kantor, tapi jatah ijin sudah habis untuk tahun ini. Bahkan jatah ijin saya mungkin menjadi minus jika di akhir tahun nanti dipakai untuk acara keluaga. Andai kebijakan work at home mulai berlaku tahun ini, mungkin saya dapat menggunakannya sebagai alasan ketidakhadiran. Jika sudah begitu, maka sakit adalah satu satunya alasan yang bisa digunakan, dan kenyataannya memang demikian.

Tentunya jika tidak masuk kantor, saya harus memberitahukan kepada atasan saya, agar segala keperluan dan pekerjaan dapat didelegasi sementara. Hal ini diperlukan agar administrasi pekerjaan tidak terhenti hanya dikarenakan ada personil yang tidak masuk. Cara tercepat untuk menginformasikan tentunya adalah menggunakan pesan singkat. Tidak sulit untuk menemukan handphone, karena sepanjang hari selalu berada di sekitar saya. Saya buka menu pesan singkat (SMS) dan saya teringat akan pesan terakhir yang saya kirimkan kemarin malam, yang berisi tentang update progress beberapa project.
on Leave a Comment

Berapa Kali Saya Harus Terjatuh?

Dikisahkan ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak yang berusia 2 tahun. Malam itu, sang ayah dan ibu sedang menunggu anak semata wayang untuk menikmati makan malam yang sudah tersedia di atas meja makan.

Saat itu, sang anak sedang asyik bermain. Ketika namanya dipanggil oleh ibunya, dirinya langsung berdiri dan berlari menuju ke arah ibunya. Sesaat sebelum sampai di ruang makan, anak itu terjatuh. Rasa sakit diderita oleh anak itu, namun dirinya diam menahan sakit sembari berusaha berdiri kembali.

Kali ini ketika anak itu berusaha berdiri, salah satu tangannya menyentuh kaki meja dan mengakibatkan wadah yang berisi air di atas meja tersebut jatuh. Bersamaan dengan kejadian itu, anak itu terjatuh ke lantai. Kali ini lantai tempat dia terjatuh sudah dipenuhi oleh tumpahan air tadi. Secepatnya anak itu berusaha bangkit, namun secepat itu juga anak itu terpeleset jatuh.

on 2 comments

Banyak Tugas, Bagaimana Cara Menyelesaikannya?

Dalam kerjaan,banyak sekali permasalahan yang menunggu untuk kita selesaikan. Telat menyelesaikannya, maka biasanya kita akan terkena sanksi dari atasan. Apalagi jika kita lupa mengerjakannya, mungkin akan ada surat peringatan yang akan menghampiri meja kerja kita. 

Nonstop. Ya, begitulah gambaran yang bisa kita temui di setiap tempat kerja. Adalah hal yang lumrah, karena jika semua kerjaan selesai, terus buat apa kita ada di sana? Perusahaan pun tidak mau mengaji orang hanya untuk duduk santai dan pulang tanpa menghasilkan nilai tambah bagi stakeholder.

Biasanya kerjaan yang datang selalu berhubungan dengan jabatan dan posisi yang bersangkutan. Tidak mungkin memberikan pekerjaan mengenai accounting untuk teknisi listrik ataupun memberikan pekerjaan IT kepada orang yang bergelut di bidang hukum.

Namun, kadang kala ada pekerjaan yang di luar dari job desc yang bisa kita temukan di keseharian pekerjaan di kantor.
Powered by Blogger.