on Leave a Comment

Kuasailah pedangmu sendiri!

Bamboroo yang sudah lama tidak ketemu dengan kakek, mencoba mencari kenangan melalui buku diary yang tersusun rapi di dalam kamarnya. Perlahan-lahan dibukanya lembaran buku tebal itu, dan sesekali tersenyum kecil mengingat cerita yang sering dibacakan oleh kakeknya, tertuang rapi disana.

Cerita itu bermula di negri tiongkok, negeri persilatan yang pada jamannya sangat banyak sekali ilmu bela diri tercipta.

Satu masa, di jaman itu, dalam satu angkatan training akan selalu muncul satu murid yang paling berprestasi. Murid yang memiliki disiplin yang baik, etos kerja yang tinggi dan semangat pantang menyerah. Murid ini berhasil melewati semua ujian yang diberikan oleh gurunya, sehingga tibalah waktunya bagi murid itu untuk "turun gunung". Sang guru mengajak murid untuk memilih hadiah sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi murid. Diantarkan muridnya sampai ke dalam sebuah gua. Di dalam gua itu hanya memiliki 2 jalan, satu mengarah ke kanan dan satu mengarah ke kiri. Sang murid dapat merasakan hawa jahat dari arah kanan, namun hawa sejuk dirasakannya dari arah sebaliknya.


"Ambillah pedang yang kamu sukai, di sisi kanan ada pedang terkuat namun memiliki hawa yang jahat". Pedang dengan aura jahat itu begitu panas, bergelora menantikan sang pemilik barunya. "Sedangkan pedang yang berada di sisi kiri, pedang bening dengan hawa cinta kasih, namun memiliki tingkat kekuatan satu tingkat di bawah dari pedang sebelah kanan". Pedang dengan hawa yang tenang, sejuk dan serasa damai jika berada di dekatnya.

Setelah menimbang, akhirnya sang murid memilih pedang hawa cinta kasih. Perpisahan pun tak pelak terjadi, sang guru akhirnya harus berpisah dengan muridnya. Beberapa tahun kemudian, sang murid menerima kabar bahwa sang guru mewariskan ilmu tertingginya dan beserta pedang hawa jahat kepada murid yang lain. Walaupun dia bisa memaklumi bahwa setiap angkatan pasti memiliki murid berprestasi, namun sang murid tidak rela jika ilmu tertinggi bukan diwariskan kepadanya, melainkan kepada orang lain. Berangkatlah si murid menuju tempat gurunya.

Sang murid harus melewati penjagaan ketat dari teman seperjuangannya saat hendak menuju ke tempat gurunya. Karena amarahnya yang begitu tinggi, sang murid melewati semua penjagaan dengan brutal dan dalam hitungan menit, dia sudah berdiri di depan pintu tempat sang guru biasa bermeditasi.

Melihat sang murid telah kembali, sang guru begitu bahagia. Namun kebahagian itu sirna karena keberadaan sang murid tidak seperti yang diharapkan. Tidak ada kata sapaan yang muncul dari mulut sang murid.

"Mengapa guru mewariskan ilmu tertinggi kepada orang lain? guru berkata bahwa aku adalah murid yang paling berbakat?
Tapi kenapa sekarang saya harus menerima kenyataan bahwa di luar sana ada orang yang lebih engkau sayangi?"

Sang guru menyadari kegelisahan hati si murid, dan sebelum bisa mengatakan sepatah kata, sang murid sudah melanjutkan kata-katanya.. "..dan lebih parah lagi, engkau biarkan dia miliki pedang dengan hawa jahat itu. Apa jadinya jika dia menyalahgunakan kekuatannya? apa guru tidak mengetahui betapa ganasnya pedang itu jika jatuh ke tangan yang salah?"

Melihat ada sesuatu yang sepertinya salah dimengerti oleh muridnya, sang guru akhirnya membukakan suaranya. "Muridku, selamat datang kembali" Tapi sapaan dari sang guru tidak didengarkan sama sekali oleh sang murid. "Bagaimana kabarmu?"

Kembali sang murid diam tak bergeming "Bagaimana dengan pedang yang ku hadiahkan kepadamu? apakah engkau merawatnya dengan baik?" Kesal terlalu banyak berbasa-basi, sang murid akhirnya harus meladeni pembicaraan gurunya "Pedang yang guru berikan selalu ku rawat setiap hari dan kini ku bawa serta. Engkau terlalu tua sehingga tidak mengenal pedang yang sedang kupegang ini, ini adalah pedang pemberianmu!"

"Oh.. Aku memang tua, namun aku yakin pedang itu bukanlah pedang pemberianku..." Sebelum sang murid berkata, sang guru kembali melanjutkan ucapannya "Pedang yang kuberikan kepadamu adalah pedang penuh hawa cinta kasih, pedang dengan warna putih bening dengan auranya yang hangat dan sejuk"

"Hentikan omong kosong ini, sekarang sudah tidak penting lagi apakah ini pedang pemberianmu atau bukan, saya minta penjelasan mengapa guru mewariskan ilmu tertinggi kepada orang selain diriku?"

"Muridku, masih ingatkah kamu hari terakhir kamu di sini, dimana kamu saya berikan pilihan pedang mana yang akan kamu pilih? Seandainya saat itu kamu memilih pedang terkuat yang berada di sisi kanan gua itu, tentu ilmu itu akan aku wariskan kepadamu"

".. Apa maksud pernyataan guru? tentu semua orang tidak akan memilih pedang itu, pedang itu dikelilingi oleh hawa jahat, sudah berapa banyak nyawa yang melayang karena pedang itu? dan saya tidak akan memilih pedang itu"

"Muridku, engkau harus mengetahui satu hal tentang ilmu yang kuwariskan ini. Ilmu tertinggi itu hanya dapat dipadankan dengan pedang terkuat juga. Jika engkau mempelajari ilmu itu menggunakan pedang yang sekarang engkau pakai, tentu pedang kamu akan pecah karena hanya pedang terkuatlah yang mampu untuk menerima tenaga dari ilmu itu"

Sang guru sudah melanjutkan perkataannya, "Sekarang engkau berkata bahwa pedang itu adalah pedang yang sama dengan saat pertama kali kamu membawanya pergi dari sini. Lihatlah baik-baik pedang itu, darah segar mengalir dari pedang itu. Dari kaki gunung hingga ke tempat kamu berpijak sekarang, sudah berapa banyak teman seperguruan kamu yang sudah merasakan tajamnya pedangmu? Pedangmu kini tidak sebening dulu, kusam dan kotor, tidak mencerminkan sebuah pedang yang penuh cinta kasih"

"Bukan pedang suci ataupun pedang jahat yang menentukan tindakanmu, namun kejernihan hatimu yang menentukan tindakanmu. Jangan dikuasai oleh pedang, namun kuasailah pedangmu karena engkaulah pemilik pedangmu sendiri..."

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.